Dinasti Han, salah satu kerajaan paling berpengaruh di Tiongkok, tidak lenyap dalam semalam. Kemundurannya merupakan proses pembusukan internal, korupsi politik, dan akhirnya perpecahan menjadi negara-negara yang bertikai selama berabad-abad. Memahami keruntuhan ini bukan hanya soal keingintahuan sejarah; ini mengungkapkan bagaimana kerajaan yang paling kuat sekalipun dapat terpecah belah dari dalam.
Landasan Zaman Keemasan
Dinasti Han, menggantikan Qin yang berumur pendek, mendirikan negara terpusat yang membentuk pemerintahan Tiongkok selama ribuan tahun. Kaisar Han awal memprioritaskan stabilitas, standar hukum, dan memperluas wilayah ke arah barat. Di bawah penguasa seperti Kaisar Zhang, kekaisaran menikmati periode kemakmuran ekonomi dan budaya, yang menjadi tolok ukur bagi dinasti-dinasti masa depan. Keberhasilan ini bukan suatu kebetulan: Han membangun fondasi Qin sambil memperbaiki beberapa kebijakannya yang lebih brutal, menciptakan sistem yang menyeimbangkan ketertiban dengan stabilitas relatif.
Benih-Benih Pembusukan: Intrik Istana dan Penguasa yang Lemah
Retakan mulai muncul pada periode Han Timur. Semakin banyak kaisar muda dan tidak berpengalaman yang mewarisi kekuasaan, meninggalkan otoritas nyata di tangan para kasim dan bupati istana. Pemerintahan Kaisar Huan menunjukkan disfungsi ini: pembersihan tanpa pandang bulu terhadap saingannya tidak banyak memulihkan ketertiban, malah memperdalam korupsi. Pola ini terus berlanjut, dengan penguasa seperti Kaisar Ling yang mewarisi istana yang penuh dengan pertikaian dan pejabat yang mementingkan diri sendiri.
Titik Puncaknya: Pemberontakan dan Militerisasi
Pemberontakan Turban Kuning, pemberontakan besar-besaran yang dipicu oleh kelaparan, pajak yang tinggi, dan ketidakpuasan yang meluas, terbukti menjadi titik puncak kehancuran kekaisaran. Meskipun pemerintahan Han menumpas pemberontakan, mereka melakukannya dengan mengandalkan jenderal-jenderal regional. Keputusan ini mempunyai konsekuensi yang tidak diinginkan: para jenderal tersebut mempertahankan pasukannya, sehingga secara efektif melakukan militerisasi politik. Kekaisaran telah menukar stabilitas jangka pendek dengan fragmentasi jangka panjang.
Panglima Perang dan Kaisar Boneka
Setelah pemberontakan berhasil dipadamkan, panglima perang regional membentuk basis kekuatan mereka sendiri. Kaisar muda Xian menjadi boneka, dimanipulasi oleh komandan ambisius seperti Yuan Shao, Cao Cao, Liu Bei, dan Sun Quan, semuanya berperang atas nama kaisar sambil membangun kerajaan independen mereka. Cao Cao, khususnya, memerintah melalui pengadilan dengan menjadikan Kaisar Xian sebagai penguasa boneka, menunjukkan bahwa otoritas kekaisaran tidak berarti apa-apa tanpa kekuatan militer untuk mendukungnya.
Perpecahan Terakhir: Tiga Kerajaan
Pada awal abad ketiga, Dinasti Han hanya ada dalam nama saja. Putra Cao Cao, Cao Pi, memaksa Kaisar Xian untuk turun tahta, secara resmi mengakhiri Dinasti Han dan memulai periode Tiga Kerajaan. Wei, Shu Han, dan Wu muncul sebagai kekuatan dominan, terjebak dalam perjuangan supremasi selama puluhan tahun. Shu Han, dipimpin oleh Liu Bei dan kemudian dibimbing oleh Zhuge Liang, berusaha memulihkan Han tetapi akhirnya gagal menyatukan kembali Tiongkok.
Jatuhnya Dinasti Han bukanlah bencana yang terjadi secara tiba-tiba, melainkan pengikisan otoritas secara bertahap, yang dipercepat oleh korupsi internal, kepemimpinan yang lemah, dan konsekuensi yang tidak diinginkan dari penindasan pemberontakan. Kisah ini menjadi peringatan: bahkan kerajaan yang paling bertahan lama pun bisa mengalami kehancuran ketika fondasinya dirusak dari dalam.



























